Selasa, 26 Mei 2015

Tips Untuk Move On.



12 Cara Move On Dari Mantan Kekasih

1.     Berhenti Mengasihani Diri Sendiri

Rasa kecewa, marah, dan sakit hati karena putus cinta sering kali bikin kita merasa punya alasan untuk menangis dan mengasihani diri sendiri. Padahal, sejak awal kamu sudah tahu bahwa ketika kamu memberanikan diri jatuh cinta maka kamu juga harus siap dengan resiko patah hati.

Kamu punya hak buat mencintai dia, tapi dia juga punya hak yang sama buat mencintai orang lain. Kamu harus berhenti mengasihani diri sendiri dan berbesar hati membiarkan dia bersama orang yang dia cintai.

2.     Kembali Belajar Untuk Mencintai Diri Sendiri

Saat kehilangan sesuatu, ada baiknya kamu coba ingat bagaimana hidupmu dulu saat masih sediri. Mungkin kamu tidak sebahagia saat bersama dia, tapi jangan lupa fakta bahwa saat itu kamu baik-baik saja. Kamu bisa tetap tertawa dan bahagia. Mungkin kehilangan dia menyisakan tempat kosong di hati kamu, tapi bukan berarti duniamu akan berhenti.
Cobalah untuk belajar mencintai diri kamu sendiri lagi. Percaya deh, kalo dulu kamu baik-baik saja tanpa dia, kamu juga akan baik-baik saja sekarang.

3.     Singkirkan Semua Hal Yang Mengingatkan Kamu Tentang Dia

Nggak ada gunanya kamu menyimpan barang-barang yang bisa mengingatkan kamu soal dia. Sebaiknya kamu mulai menyingkirkan semua barang yang dulu pernah dia kasih. Turunkan semua foto kalian yang masih nempel di dinding kamar. Hapus semua sms, email atau pesan dia di media sosial. Percaya deh, dengan terus hidup bersama kenangan tentangnya nggak akan bikin kamu merasa lebih baik.

4.     Lakukan Hal-Hal Yang Kamu Suka

Cobalah untuk tampil lebih cantik! Bukan untuk menarik perhatian orang lain, tapi lakukanlah hal itu untuk diri kamu sendiri. Kamu bisa mulai melakukan hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan saat berhubungan dengan dia.
Misalnya sejak dulu kamu ingin memotong pendek rambut kamu tapi karena dia tidak suka, kamu tidak pernah benar-benar melakukannya. Bebaskan diri kamu dari segala tekanan dan lakukan hal-hal yang benar-benar membuat kamu bahagia.

5.     Habiskan Lebih Banyak Waktu Bersama Teman-Temanmu

Nggak ada hal yang bisa membuatmu merasa lebih baik selain membagi kesedihanmu dengan teman-teman terdekat. Mereka adalah orang-orang yang selalu ada buat kamu disaat kamu butuh tempat berbagi. Coba deh kamu telepon mereka dan ajak mereka untuk keluar dan bersenang-senang. Bergembiralah supaya kamu bisa melupakan kesedihan kamu karena patah hati.

6.     Atur Ulang Rutinitas Hidupmu

Dulu saat kalian masih berhubungan,  kamu mungkin menjalani hari-hari kamu dengan berkegiatan bersama. Mulai dari jogging bareng, mengantar makan siang ke kantornya samapai liburan bareng setiap minggu. Tapi sekarang, saat kalian sudah nggak lagi bersama, ada banyak waktu kosong yang bikin kamu galau.
Eits! jangan biarkan kamu berlarut-larut dalam kehampaan. Mulailah mengatur ulang rutinitas hidupmu. Kamu bisa mengisi kekosongan dengan melakukan hal-hal kecil seperti yoga atau jogging di taman.

7.     Menghindar Buat Sementara Waktu Itu Nggak Masalah

Kamu mungkin pernah denger istilah kalau putus cinta bukan berarti harus putus hubungan pertemanan. Tapi kalau kamu merasa butuh waktu untuk menata perasaan, menghindar sementara dari dia itu nggak masalah kok. Sebisa mungkin hapus dia dari kehidupan kamu karena toh pada akhirnya kamu harus membiasakan diri untuk hidup tanpanya.
Sebesar apapun keinginanmu untuk tahu kabar dia, jangan biarkan dirimu kalah. Kalau kamu tidak siap menghapusnya sekarang, maka mungkin kamu nggak akan pernah siap.

8.     Jangan Terus Berharap Dengan Alasan, “Cuma Teman Kok”

Berhenti membohongi dirimu sendiri. Hilangkan pemakluman untuk menjalin komunikasi dengan mantan pasangan atas dalih perasaanmu sudah berubah — dari sayang ke lawan jenis jadi rasa sayang kepada teman atau saudara.
Percaya deh, itu justru akan membuat kamu terpuruk lebih jauh. Mungkin suatu hari nanti kamu memang bisa menetralisir perasaanmu dan benar-benar menganggap dia sebagai teman. Tapi mungkin itu nanti, bukan sekarang.

9.     Isi Kekosongan Hati Kamu Dengan Musik

Percaya atau enggak, musik punya pengaruh yang besar buat perasaan manusia. Saat kamu dengar musik yang sedih  perasaan kamu akan terbawa menjadi melankolis. Sebaliknya, kalo kamu mendengarkan musik yang ceria, kamu akan menjadi lebih bersemangat. Cobalah untuk menghalau kegalauan kamu dengan musik.

10.  Ingat, Jodohmu Yang Sebenarnya Masih Menunggu Di Luar Sana

Saat kamu merasa sudah mulai bisa melupakan mantan, jangan takut untuk memulai hubungan baru. Jangan biarkan pengalaman patah hati yang pernah kamu rasakan membuat kamu jauh dari kebahagiaan. Ingatlah jika mantan kekasihmu bukan pria yang ditakdirkan untuk mendampingi kamu, maka jodohmu yang sebenarnya masih menunggu di luar sana.


SILAHKAN DI COBA YA. :D (y). !!!













Jumat, 22 Mei 2015

CERPEN



Ibu, Ke Mana Saja Engkau Selama Ini!

Sorotan mata itu telah kumiliki sejak enam bulan yang lalu. Sorotan dingin serta guratan wajah yang dialiri beban hidup. Aku sudah kasep dengan kedinginan itu. Sorotan yang melumpuhkan angan-anganku tentang kehangatan pemiliknya yang acapku temui bersama cincangan ubi.
Seperti pagi yang sudah-sudah, dalam kebisuan yang meregang kehampaan ikatan naluri dua insan yang tak berhijab. Sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu aku jajakan bungkusan cincang buatan ibu dari rumah makan kerumah makan. Tapi kali ini aku tidak perlu tergesa-gesa mengayuh  federal tuaku, karena pasca Ujian Nasional telah seminggu.
Bungkusan berisi potongan ubi yang digoreng setelah dikukus, sudah tidak membebani sepedaku lagi, ketika melewati lampu merah, di sana tampak seorang bocah laki-laki mendekap setumpuk koran di dada telanjangnya. Lalu  kudekati.
“Dek, hari ini Riau Pos memuat pegumuman PBUD ‘kan?”
Bocah berusia 8 tahun itu mengangguk bersemangat, mengira aku akan membeli korannya.
“Abang boleh lihat? Bentar… aja!” Aku membuyarkan kegirangannya.
Mata bulat berbinar yang penuh harap, seketika melotot dan mulutnya ikut bersungut. “Melihat berarti membeli, apalagi memegang!!” hardiknya memaksaku untuk beranjak.

Tanpa putus harapan, kukayuh sepeda yang batangnya sudah tak bermerk ke halte, tidak jauh dari lampu merah. Seorang bapak-bapak bertampang sangar, sedang menikmati selintingan tembakau di cerutu kuno dan sebentangan koran. Tubuhnya yang besar serta wajah yang dihiasi jambang yang lebat membuat aku ciut juga, namun apa boleh buat aku harus coba dulu. “Ya Tuhan… semoga dia…” belum sempat aku berada di sampingnya, tiba-tiba sebuah bus berhenti, bapak itu bergegas melipat koran dan menaiki bus.
“Ya…,” aku hanya menghela nafas kecewa, tanpa semangat kunaiki sepeda yang hampir kusandarkan di tiang listrik. “Bagaimana ini, di mana lagi aku bisa lihat koran gratis!” bisik hatiku setengah putus asa. Kayuhanku mulai tak berdaya, sehingga aku pun berhalusinansi, di sebelah kiri pohon Akasia yang rindang melambai ke arahku, menawarkan kesegaran di bawah dekapan dedaunannya yang rimbun. Tanpa piker panjang, kurebahkan sepedaku dan aku pun menyandarkan punggungku di batangnya yang kokoh. Tidak beberapa detik menikmati kesejukan, suara yang tak asing menyapaku.
“Hai… fren… selamat ya… kau diterima di FKIP Kimia Lho…! wah-wah calon guru  nih,” tepukan gulungan koran menyusul mendarat di pundakku.
“Wow… kau rupanya, Teja? Selalu saja hadir dengan membawa apa yang kubutuhkan. Aku baru saja kepusingan nyari koran.”
“Biasa ajalah. O ya, eh iya, aku ikut pergi nemenin kamu interview ya, Rif ?”
“Boleh-boleh! Tapi mana dulu namaku di koran ini? Aku mau lihat sendiri. Sapa tau kamu salah baca lagi.” Mataku sibuk mengamati deretan nama yang tertera di halaman koran.

“Tu ha…, belalakan dikit mata tu kawan…” Teja menghujamkan telunjuknya tepat di nama Syarifudin.
“Eh iya, ya! Kalau gitu kita pulang lagi yuk! Kau kubonceng saja kawan.”

Sesampai di tengah halaman, cepat-cepat aku turun dari sepeda tanpa sempat lagi menyandarkannya dengan baik-baik, seraya berlari masuk ke rumah. Kuhampiri sosok laki-laki yang terbaring lemah di sudut ruangan yang berhadapan dengan dapur. “Bah…, Abah… Arif lolos PBUD, Bah! Semoga ini jalan untuk meringankan biaya kuliahku nanti.”
Lengan kurus abah meraih pundakku kemudian bergerak mengusap kepalaku. Dengan berlinangan air mata seraya terbata-bata memenggal kalimat. ”Apa pun langkahmu dalam meraih cita-cita, ayah selalu meridhoimu. Jadilah pahlawan dalam bercita-cita.”

Tatkala aku dan abah larut dalam kehangatan, dari dapur terlihat sosok yang sibuk membuka kukusan, sesekali melirik kami dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Sedikit pun ia tidak memberi reaksi atau menanggapi kabar yang kuceritakan. Aku sudah terbiasa menghadapi sikap dingin ibu. Bahkan aku sudah tak ingat lagi dengan kehangatan yang pernah ia berikan. Mungkin itu adalah salah satunya pelengkap penderitaanku selain dari kemiskinan. Ibu terus mengaduk cincangan ubi di kukusan., kurasa ia muak dengan berita yang sedikit pun tak mengubah perekonomian keluarga. Kebisuan tanpa kecairan yang mampu kuciptakan bersama ibu, membuatku membantunya tanpa perintah dan diperintah. Kujerang kuali berisi minyak untuk menggoreng cincangan ubi yang baru selesai diangkat dari kukusan.
Pagi-pagi aku bergegas mengantarkan bungkusan cincang ubi ke warung-warung dan rumah makan. Aku tergesa-gesa, hingga aku mampir ke rumah Teja dan memaksanya untuk meminjam sepeda motor ayahnya.
Di perjalanan Teja begitu laju mengendarai Astrea ayahnya. Tatkala sampai di persimpangan jalan tak beraspal, sisa air hujan di beberapa lobang di jalan mengotori celana Apolo hitamku. Kemudian ban motor pun bocor, Karena sangking laju dan jalan yang buruk, ditambah bannya yang sudah tua.
Teja memandangku iba, ”Semangat sobat! Ini kode-kode alam! Sudah kau pelajari, bukan? Etika interview…” Teja mengembangkan senyumannya.

Dengan sedikit terobati rasa was-wasku oleh sikap teja, segera kubantu ia menyeret astrea ke bengkel yang kebetulan tak jauh dari tempat kami berdiri.
“ Teja!”
“Apa sobatku tersayang…?”
“Andai saja Tuhan meminta aku menyerahkan orang yang kucintai, maka aku akan rela ia mengambil ibuku dari pada kamu.”

“Ha, apa yang barusan kau ucapkan, kawan? Eling  dong! Kasih ibu sepanjang masa, kasih sahabat sepanjang persahabatan.” Teja membayar upah bengkel dan kami pun tancap gas.
Proses interview telah hamper seminggu kulewati, dengan harapan yang semakin menggebu-gebu, kuingin lolos. Aku yakin aku lolos, sebab aku menjawab semua pertanyaan dengan tepat, dan sejujurnya, termasuk propesi orang tuaku. Aku terus bersabar menanti Teja hadir dengan teriakan ‘good luck my honey!’, ‘hebat kau kawan, traktir-traktir!’ atau apalah yang biasa keluar dari mulutnya. Kesabaranku sebenarnya sudah sangat renta, andai saja tak ditopang oleh ucapan bijak abah yang selalu menyejukkan hatiku.
Hari  Sabtu sore ibu menugasiku memarut ubi untuk membuat bolu kukus pesanan tetangga yang akan mengadakan arisan. Sambil memarut ubi kuperhatikan lekat-lekat wajah tirus ayah yang semakin tak bergairah lagi. Rambutnya kian hari kian berguguran. Aku iba sekali dengan kondisi ayah, telah hampir empat tahun ia tidak menarik oplet lagi, artinya telah hampir 4 tahun pula ia terbaring. Abah, bertahanlah… tunggu aku menjadi orang. Izinkan aku mengabdi.
Ubi yang kuparut telah selesai. Dan kebetulan ibu baru saja pulang dari pasar. Ketika aku melemas-lemaskan pergelangan tangan, Teja datang dengan langkah dan pias wajah tak menunjukkan kegirangan. Perasaanku berubah tak enak. Apalagi kulihat segulungan koran di tangannya. Pelan sekali ia mendekat kepadaku seraya berbisik. ”Sabar sobat, perjuangan belum berakhir, Tuhan mungkin menakdirkan kita ikut SMPTN bersama-sama.”
Aku segera bangkit mendengar ucapan Teja. “Jangan berbicara takdir, Tej! Kalau itu sama sekali tak mungkin. Kau kan tahu, dari PBUD ini saja aku entah kuliah entah tidak.” Kesal.
Teja menatapku tak percaya, “Aku akan membantumu membeli formulir!” ia menmcoba mengertikan aku.
“Simpan bujukanmu, kawan.”

Ibu sibuk dengan pekerjaannya, seperti biasa ia seolah-olah tak pernah dengar apa pun tentang permasalahanku. Dadaku semakin panas, pemandangan yang bergantian di benakku hanyalah wajah ayah yang terbaring lemah dan wajah ibu yang dingin. Aku tak lagi berfikir, untuk membenturkan kepalaku ke tembok rumah yang kulihat seperti susunan roti bantal yang empuk.
Kedinginan itu telah usai seiring tetesan terakhir darah dari ubun-ubunku.